
Obligasi pemerintah jadi aset investasi yang diburu investor di tengah kondisi yang tidak stabil. Obligasi dinilai lebih aman dibandingkan saham atau kripto yang rawan risiko setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan soal kebijakan tarif terhadap negara mitra dagangnya.
Dilansir dari Refinitiv, per Jumat (4/4/2025) imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun untuk AS, Jerman, dan Jepang terpantau mengalami penurunan dalam dua hari beruntun yakni Kamis-Jumat (3-4/4 2025).
Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun untuk AS turun sebesar -0,195 poin persentase dari Rabu hingga Kamis (2-4/4/2025) dan kini bertengger ke 3,99%. Level tersebut adalah yang terendah sejak Juli 2023 atau 1,5 tahun lebih.
Begitu pula dengan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun untuk Jepang dan Jerman dalam periode yang sama tampak mengalami depresiasi masing-masing sebesar 0,301 dan 0,139 poin persentase.
Sementara China cenderung relatif konstan di level 1,866%.
Imbal hasil menunjukkan kinerja yang berbalik dengan harga. Imbal hasil yang turun menunjukkan harga obligasi lagi naik karena ramai dibeli investor.
Penurunan imbal hasil yang signifikan ini menjadi representasi bahwa investor berbondong-bondong membeli obligasi pemerintah yang dianggap sebagai aset aman (safe haven). Apalagi usai pemerintah China melakukan pembalasan terhadap kebijakan tarif “resiprokal” yang agresif dari Presiden Donald Trump. Langkah ini memicu kekhawatiran akan resesi global dan mendorong investor berbondong-bondong masuk ke aset aman seperti obligasi.
Dikutip dari CNBC International, Ketua bank sentral AS (The Fed), Jerome Powell, pada Jumat menyatakan bahwa ia memperkirakan tarif baru yang diberlakukan oleh Trump akan menaikkan inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi, serta menyoroti bahwa prospek kebijakan moneter saat ini sangat tidak pasti akibat gelombang tarif baru yang diumumkan pekan ini.
Ia menegaskan bahwa para pembuat kebijakan siap menahan suku bunga hingga mereka memperoleh kejelasan lebih lanjut terkait dampak dari tarif-tarif tersebut.
“Kami berada dalam posisi yang baik untuk menunggu kejelasan sebelum mempertimbangkan penyesuaian terhadap sikap kebijakan kami. Masih terlalu dini untuk mengatakan apa jalur kebijakan moneter yang tepat,” kata Powell dalam sambutan yang disiapkan untuk para jurnalis di Arlington, Virginia.
Sementara itu, China pada Jumat pagi mengumumkan akan mengenakan tarif sebesar 34% terhadap seluruh barang dari AS mulai 10 April, sebagai respons terhadap kebijakan Trump sebelumnya di minggu yang sama yang menetapkan tarif dasar sebesar 10% terhadap lebih dari 180 negara, dengan efektif tarif terhadap beberapa produk China mencapai 54%.
Akibatnya, investor berbondong-bondong membeli obligasi pemerintah AS (Treasurys) sebagai bentuk perlindungan, mendorong penurunan imbal hasil obligasi dalam beberapa hari terakhir.
“Jelas bahwa reli pasar saat ini lebih mencerminkan respons terhadap perang dagang dibanding data ketenagakerjaan bulan lalu,” ujar Ian Lyngen, Direktur Pelaksana dan Kepala Strategi Suku Bunga AS di BMO Capital Markets.
“Jika ada, ini justru akan memperkuat posisi negosiasi Trump dan membuat The Fed tak punya banyak ruang untuk bersikap dovish karena data ekonomi keras masih menunjukkan performa yang baik.” imbuhnya.
Imbal hasil obligasi 10 tahun AS telah merosot dari sekitar 4,25% sejak akhir pekan lalu, di tengah kekhawatiran bahwa perang dagang dapat menaikkan harga dan menyeret ekonomi menuju resesi.
Untuk diketahui, JPMorgan pada Kamis malam menaikkan kemungkinan resesi di AS tahun ini menjadi 60% dari sebelumnya 40%.
Sementara itu, laporan ketenagakerjaan federal yang dirilis Jumat menunjukkan gambaran yang bercampur tentang kondisi pasar tenaga kerja.
Nonfarm payrolls (jumlah pekerjaan di luar sektor pertanian) naik sebesar 228.000 pada bulan Maret, sementara tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2%. Para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones sebelumnya memperkirakan kenaikan hanya sebesar 140.000 pekerjaan dengan tingkat pengangguran 4,1%. Data pertumbuhan pekerjaan dari bulan-bulan sebelumnya juga direvisi turun.
Setelah laporan ketenagakerjaan dirilis, imbal hasil obligasi memangkas sebagian kerugiannya dalam sesi perdagangan hari itu.